A.
Sebuah Ilustrasi
(Kasus pertama )
(Kasus kedua)
A.
Teori Perkembangan
Kognitif
Kemampuan kognitif merupakan
salah satu aspek yang sangat penting dalam perkembangan anak. Kemampuan
kognitif anak akan mengalami perkembangan tahap demi tahap. Kemampuan
kognitif dapat dipahami sebagai
kemampuan anak untuk berpikir secara kompleks serta melakukan penalaran.
Sehingga apabila kemampuan kognitifnya berkembang secara benar maka anak akan
mampu berinteraksi dengan baik kepada orang orang disekitar lingkungannya.
Menurut Piaget, anak-anak
memiliki cara berpikir berbeda dari orang dewasa. Piaget membagi tahapan perkembangan
kognitif anak usia dini dalam empat tahap.
1. Tahap sensorimotor (0-24 bulan)
Setiap bayi lahir dengan
refleks bawaan dan dorongan untuk mengeksplorasi dunianya. Pada tahap
perkembangan kognitif awal ini, si Kecil belum dapat mempertimbangkan kebutuhan,
keinginan, atau kepentingan orang lain, sehingga ia dianggap “egosentris”.
2. Tahap praoperasional (2-7 tahun)
Pada masa ini, anak mulai
dapat menerima rangsangan, meski masih sangat terbatas. Si Kecil pun sudah
masuk ke dalam lingkungan sosial. Si Kecil juga masih tergolong “egosentris”
karena hanya mampu mempertimbangkan sesuatu dari sudut pandang diri sendiri dan
kesulitan melihat dari sudut pandang orang lain. Ia sudah dapat
mengklasifikasikan objek menggunakan satu ciri, seperti mengumpulkan semua
benda berwarna merah, walaupun bentuknya berbeda-beda.
3. Tahap operasional konkret (7-11 tahun)
Pada masa ini, anak sudah
mampu melakukan pengurutan dan klasifikasi terhadap objek maupun situasi tertentu. Kemampuan mengingat dan
berpikir secara logis si Kecil pun makin meningkat. Ia mampu memahami konsep
sebab-akibat secara rasional dan sistematis sehingga si Kecil mulai bisa
belajar matematika dan membaca. Pada tahapan ini pula sifat “egosentris” si
Kecil menghilang secara perlahan. Ia kini sudah mampu melihat suatu masalah
atau kejadian dari sudut pandang orang lain.
4. Tahap operasional formal (mulai umur 11 tahun)
Pada masa ini, anak sudah
mampu berpikir secara abstrak dan menguasai penalaran. Ia dapat menarik
kesimpulan dari informasi yang tersedia.
Kemampuan yang berkembang
pada memori pada masa kanak-kanak awal. Model pemrosesan informasi
mendeskripsikan tiga tahap dalam mengingat :
ü Encoding : Proses dimana
informasi dipersiapkan untuk penyimpanan jangka panjang dan pemanggilan kembali
di kemudian hari.
ü Storage : Penyimpanan
ingatan untuk penggunaan di masa depan.
ü Retrieval : Proses dimana
informasi diakses atau dipanggil kembali dari penyimpanan ingatan.
Analisa :
(kasus pertama)
Karena anak tersebut masih
berusia 3-5 tahun maka dapat di kaitkan dengan tahap praoperasional. Pada masa
ini, anak mulai dapat menerima rangsangan, meski masih sangat terbatas.
Rangsangan tersebut berupa pemberian gadget oleh orang tuanya sehingga si anak
mulai merespon apabila gadget tersebut ada. Anak juga masih tergolong
“egosentris” karena hanya mampu mempertimbangkan sesuatu dari sudut pandang
diri sendiri dan kesulitan melihat dari sudut pandang orang lain. Dapat
terlihat dari kasus tersebut, sang anak hanya sibuk memainkan gadget untuk
mengakses internet sampai tidak melakukan hal lain seperti makan, buang air
kecil, dan buang air besar. Hal tersebut terjadi karena anak masih belum
mengerti apa yang ia lakukan, menurut pandangannya hal itu adalah benar dan
tidak menjadi masalah, berbeda dengan pandangan ibu nya. Anak pun sudah masuk ke dalam lingkungan
sosial yang seharusnya ia lebih banyak berinteraksi dengan lingkungan
sekitarnya, bukan menjadi anak yang
kurang bersosialisasi dengan dunia nyatanya karna lebih fokus terhadap dunia
maya. Usia 3 tahun pada anak, ialah
dimana usia tersebut sering disebut dengan masa “Golden Age” dimana seharusnya
kita melatih hal-hal yang positif untuk anak karena anak anak selalu
mengingatnya.
(kasus kedua)
Pada kasus kedua juga anak
masih berumur 4 tahun, itu tanda nya terkait dengan tahap Praoperasional. Pada
masa ini, anak mulai dapat menerima rangsangan, meski masih sangat terbatas.
Rangsangan tersebut berupa pemberian gadget terlalu dini oleh orang tuanya
sehingga si anak mulai merespon apabila gadget tersebut ada. Karena anak masih
tergolong egosentris, maka yang ia lakukan hanyalah memainkan kesenangannya
tersebut sampai lupa untuk menanggapi
hal hal yang ada disekitarnya. Perkembangan kognitif mulai terlihat terganggu
ketika ia mulai lambat merespon dan menjawab jika diajak berbicara atau bahkan
tidak menjawab sama sekali. Perilaku emosianal yang ditimbulkan dari mengakses
internet berlebihan juga cerminan dari masa egosentris nya, karena ia hanya
mampu mempertimbangkan sesuatu dari sudut pandang diri sendiri dan kesulitan
melihat dari sudut pandang orang lain. Sehingga ketika ia memukul dan memarahi
teman teman nya yang ia tangkap adalah hal tersebut benar karena merasa
terancam akan gangguan terhadap kesenangannya yaitu mengakses internet di
gadget.
Dari (kasus 1) dan (kasus 2)
juga berkaitan dengan pemrosesan informasi dalam memori . Dimulai dari tahap
encoding, ketika anak diberikan informasi dari orang disekitarnya seperti orang
tua berupa sesuatu yang seharusnya belum di perkenalkan kepada anak usia dini
seperti internet maka ia akan mengganggap informasi tersebut adalah sesuatu
yang tidak menjadi masalah dan mulai akan dipikirkan dalam jangka panjang.
Selanjutnya tahap storage, pada tahap ini anak mulai mengingat dan menyimpannya
didalam ingatan bahwa internet akan dapat diaksesnya kembali. Hingga tahap
retrieval, anak tersebut sepenuhnya ingat dan mengakses internet tersebut
bahkan apabila ia lupa maka ingatan itu kan dapat dimunculkannya kembali.
Kesimpulan
Perkembangan kognitif pada
anak ,khususnya anak usia dini merupakan hal penting bagi orang tua. Karena
orang tua adalah pengajar pertama di dalam kehidupan anak. Orang tua harus
selalu mendampingi perkembangan anaknya agar tidak terjadi gangguan yang tidak
seharusnya terjadi. Penggunaan internet berlebih yang terlalu dini untuk anak,
dapat menimbulkan banyak dampak bagi perkembangannya khususnya perkembangan
kognitif.
Daftar Pustaka
Arya. 2010. Perkembangan kognitif pada
anak. (online). (http://ilmupsikologi.wordpress.com/2010/03/31/perkembangan-kognitif-pada-anak/. Diakses 22 maret 2020.
Desmita. 2009. Psikologi Perkembangan
Peserta Didik. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.
http://news.detik.com/berita/3198716/kemendikbud-15-gam-ini-berbahaya-bagi-anak.
Diakses 20 maret 2020.
Nama anggota kelompok :
- Fathimah Azzahra Kamila (12518587)
- IkanYuniati ningsih (13518238)
- Lamiya Lukman Faris (13518743)
- Rafi Alfian P (15518752)
- Rifani Indrianti (16518134)














